AGAMA DAN KONFLIK MASYARAKAT
Disini saya akan menulis sedikit tentang agama dan konflik pada
masyarakat
Sebelumnya saya akan menjelaskan apa itu agama:
Kata “agama” berasal dari bahasa sansekerta. Agama yang berarti “tradisi”
atau “A” berarti tidak; “GAMA” berarti kacau. Sehingga agama berarti tidak
kacau. Dapat juga diartikan suatu peraturan yang bertujuan untuk mencapai
kehidupan manusia kearah dan tujuan tertentu.
Konflik yang terjadi didalam masyarakat:
Contohnya adalah konflik tentang pengharaman ucapan selamat hari raya
antar umat beragama.
Setiap ada hari raya agama lain, semakin sering muncul pengharaman
mengucapkan selamat dari sebagian muslim. Misal, haram ngucapin selamat natal,
paskah dll karena bisa merusak aqidah. Dari pengharaman semacam itu, kita bisa
menariknya ke pertanyaan lebih umum, gimana sih baiknya muslim menyikapi
agama-agama lain?
Bahwa muslim harus menjaga kemurnian aqidahnya itu jelas. Tapi apakah
harus tidak boleh ngucapin selamat natal, paskah, waisyak, dll? Saya kira
masalahnya terletak pada kecenderungan sebagian muslim yang melihat agama-agama
lain semata-mata dari perspektif agama sendiri. Akibatnya perspektik pemeluk
agama lain tentang agama mereka sendiri tak dihargai, padahal bisa begini: saya
sebagai muslim tak mengimani paskah. Tapi saya hargai hak orang Kristen untuk
mengimaninya. Karena itu saya mengucapkan selamat. Sembari kita yakini agama
kita yang paling benar, kita menghargai hak pemeluk agama lain untuk yakini
agamanya yang paling benar juga.
Bentuk penghargaan tersebut adalah tidak memaksakan aqidah kita untuk
menilai agama lain, karena kita juga ndak mau agama kita dinilai dari luar. Pandangan
yang jadikan aqidah sendiri sebagai satusatunya tolak ukur memang pernah
ngetrend dimasa lalu. Perbandingan aqidah jaman jadul: agama lain dianalisis
untuk dicari kesalahannya. Salah menurut aqidah sendiri. Tujuannya untuk
menunjukkan supremasi agama sendiri. Tapi perbandingan agama ala jadul ini
bermasalah dalam 2 hal. Pertama, cenderung subyektif: menjadikan perspektif
sebagai sang subyek, dan tak obyektif: mengabaikan “obyek”nya.
Kadang ada juga yang sok-sokan mengkaji kitab suci agama lain untuk
dicari kontradiksinya, tapi pendekatannya selektif, pilih-pilih. Sok-sokan Karena
motifnya untuk menunjukkan agama yang dikaji sesat, dan agamanya lah yang
paling unggul. Cara seperti itu sejatinya hanya “onani intelektual”, memuaskan
diri sendiri, tapi sebagai kajian tidak kredibel secara ilmiah.
Chairil anwar menulis sajaknya yang menggetarkan “Doa” sehari setelah ia
menulis sajak “Isa”. Apresiasi yang intens chairil terhadap pengalaman
spiritual kristiani mengilhami dan memperkaya pengalaman religiusnya sendiri.
Chairil yang muslim perlu “Mengembara di negeri asing” untuk bisa bilang
“Tuhanku, dipintuMU aku mengetuk. Aku tak bisa berpaling.”
Sebagai penutup saya ingin memberikan sedikit pesan:
Jadi, penjelajahan spiritual ke agama-agama lain justru bisa memperkaya
pengalaman batik kita sendiri. Keduanya tidak saling menafikan. Sikap obyektif
terhadap agama-agama lain memungkinkan kita belajar banyak darinya. Kita jadi
berkembang secara rohani.
Mari kita “Mengembara di negeri asing” untuk kemudian menyatakan “Tuhanku,
di pintuMU aku mengetuk. Aku tak bisa berpaling.” Sekian.
referensi:
http://jurnalapapun.blogspot.com/2014/03/pengertian-dan-definisi-agama-menurut.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar