Minggu, 04 Januari 2015

AGAMA DAN KONFLIK MASYARAKAT

AGAMA DAN KONFLIK MASYARAKAT

Disini saya akan menulis sedikit tentang agama dan konflik pada masyarakat
Sebelumnya saya akan menjelaskan apa itu agama:
Kata “agama” berasal dari bahasa sansekerta. Agama yang berarti “tradisi” atau “A” berarti tidak; “GAMA” berarti kacau. Sehingga agama berarti tidak kacau. Dapat juga diartikan suatu peraturan yang bertujuan untuk mencapai kehidupan manusia kearah dan tujuan tertentu.
Konflik yang terjadi didalam masyarakat:
Contohnya adalah konflik tentang pengharaman ucapan selamat hari raya antar umat beragama.
Setiap ada hari raya agama lain, semakin sering muncul pengharaman mengucapkan selamat dari sebagian muslim. Misal, haram ngucapin selamat natal, paskah dll karena bisa merusak aqidah. Dari pengharaman semacam itu, kita bisa menariknya ke pertanyaan lebih umum, gimana sih baiknya muslim menyikapi agama-agama lain?
Bahwa muslim harus menjaga kemurnian aqidahnya itu jelas. Tapi apakah harus tidak boleh ngucapin selamat natal, paskah, waisyak, dll? Saya kira masalahnya terletak pada kecenderungan sebagian muslim yang melihat agama-agama lain semata-mata dari perspektif agama sendiri. Akibatnya perspektik pemeluk agama lain tentang agama mereka sendiri tak dihargai, padahal bisa begini: saya sebagai muslim tak mengimani paskah. Tapi saya hargai hak orang Kristen untuk mengimaninya. Karena itu saya mengucapkan selamat. Sembari kita yakini agama kita yang paling benar, kita menghargai hak pemeluk agama lain untuk yakini agamanya yang paling benar juga.
Bentuk penghargaan tersebut adalah tidak memaksakan aqidah kita untuk menilai agama lain, karena kita juga ndak mau agama kita dinilai dari luar. Pandangan yang jadikan aqidah sendiri sebagai satusatunya tolak ukur memang pernah ngetrend dimasa lalu. Perbandingan aqidah jaman jadul: agama lain dianalisis untuk dicari kesalahannya. Salah menurut aqidah sendiri. Tujuannya untuk menunjukkan supremasi agama sendiri. Tapi perbandingan agama ala jadul ini bermasalah dalam 2 hal. Pertama, cenderung subyektif: menjadikan perspektif sebagai sang subyek, dan tak obyektif: mengabaikan “obyek”nya.
Kadang ada juga yang sok-sokan mengkaji kitab suci agama lain untuk dicari kontradiksinya, tapi pendekatannya selektif, pilih-pilih. Sok-sokan Karena motifnya untuk menunjukkan agama yang dikaji sesat, dan agamanya lah yang paling unggul. Cara seperti itu sejatinya hanya “onani intelektual”, memuaskan diri sendiri, tapi sebagai kajian tidak kredibel secara ilmiah.
Chairil anwar menulis sajaknya yang menggetarkan “Doa” sehari setelah ia menulis sajak “Isa”. Apresiasi yang intens chairil terhadap pengalaman spiritual kristiani mengilhami dan memperkaya pengalaman religiusnya sendiri.
Chairil yang muslim perlu “Mengembara di negeri asing” untuk bisa bilang “Tuhanku, dipintuMU aku mengetuk. Aku tak bisa berpaling.”
Sebagai penutup saya ingin memberikan sedikit pesan:
Jadi, penjelajahan spiritual ke agama-agama lain justru bisa memperkaya pengalaman batik kita sendiri. Keduanya tidak saling menafikan. Sikap obyektif terhadap agama-agama lain memungkinkan kita belajar banyak darinya. Kita jadi berkembang secara rohani.

Mari kita “Mengembara di negeri asing” untuk kemudian menyatakan “Tuhanku, di pintuMU aku mengetuk. Aku tak bisa berpaling.” Sekian. 

referensi:
http://jurnalapapun.blogspot.com/2014/03/pengertian-dan-definisi-agama-menurut.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar