PEMUDA DAN FENOMENA CABE-CABEAN
Awalnya istilah
cabe-cabean itu diperuntukan bagi remaja yang masih berusia belasan tahun yang eksis
di dunia perbalapan liar. Khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, bandung
dan lain-lain, tidak jarang kita melihat gadis-gadis muda nan elok berkeliaran
pada malam hari dikota-kota tersebut. Entah untuk menjajakan dirinya atau hanya
sekedar ikut-ikutan trend karena pada usia seperti itu fikiran mereka masih
sangat labil dan sangat mudah untuk dipengaruhi oleh orang lain. Cabe-cabean
memiliki makna yang sangat luas. Banyak yang berpendapat cabe-cabean
diidentikkan dengan remaja dengan gaya pakaian tertentu dan tingkah laku remaja
yang tidak pantas atau tidak baik, khususnya untuk anak-anak seusia mereka yang
umumnya berkisaran SMA dan SMP bahkan SD.
Jika kita telusuri lebih jauh asal muasal sebenarnya
kata cabe-cabean itu memiliki arti yang lainnya bahkan kata tersebut merupakan
singkatan, tapi berhubung singkatan dari cabe-cabean tidak sopan maka saya
tidak akan menuliskannya secara detail. Asal usul cabe-cabean itu sendiri dari
balapan liar yang juara atau menang dalam perlombaan balapan tersebut
mendapatkan cabe, cabe-cabean maksudnya, nah itu yang namanya
cabe-cabean.
Nah, yang tak kalah pentingnya untuk dibahas tentang
fenomena cabe-cabean tersebut adalah faktor penyebab cabe-cabean merebak di
kalangan anak muda atau ABG sekarang. Bahkan jika hal tersebut tetap
dipopulerkan akan menimbulkan dampak negatif yang lebih banyak lagi, fenomena
ini sudah berpotensi memberikan pengaruh buruk kepada remaja bahkan murid-murid
sekolah dasar, belum lagi bila dihubungkan dengan maraknya sekarang ini tindak
asusila ataupun kekerasan seksual pada anak maupun remaja yang menurut Komisi
Perlindungan Anak atau KPAI bahwa kejahatan seksual terhadap anak-anak sudah
pada taraf “Bencana Nasional”. Inilah yang harus menjadi kewajiban kita ke
depan. Ingat loh, bukan hanya siaga 1 tapi AWAS!
Banyak faktor yang menyebabkan
fenomena cabe-cabean dan terong-terongan muncul. Mulai dari faktor keluarga,
dalam hal ini adalah orang tua yang musti menggodok kembali kurikulum dalam
keluarga tersebut agar berlandaskan nilai agama sebagai pondasi awal kemudian
menyusul nilai-nilai lainnya seperti nilai sosial, moral dan budi pekerti.
Jangan sampai orang tua kalah dengan anaknya. Lho? Lah kan anak sekarang sudah
semakin pintar, bukan berarti orang tuanya sebaliknya loh, hanya saja terkadang
banyak orang tua yang cenderung tidak mengikuti perkembangan dunia remaja saat
ini, padahal amat penting untuk diketahui orang tua karena hal ini dapat
membantu orang tua dalam memberikan penjelasan yang lebih rinci dalam
memberikan nasihat pada si anak sesuai fakta kekinian hingga memberikan
penjelasan yang mampu diterima dan dimengerti dengan baik, tidaklah mudah
menasihati anak pada saat ini karena mereka cenderung merasa mereka lebih tahu,
lebih paham dan merasa benar karena mereka yang menjalani sedangkan orang tua
dianggap tidak tahu apa-apa. Akan tetapi bukan pula orang tua bersikap
otoriter, mengawasi gerak-gerik anak setiap detiknya, memaksakan kehendak tidak
boleh begini atau tidak boleh begitu, hal tersebut malah akan membuat anak
merasa tertekan, merasa diawasi, merasa tidak dipercaya hingga merasa tidak
nyaman. Anak-anak saat ini banyak yang menuntut emansipasi anak-anak? Apa tuh?
Itu loh wujud dari pembelaan mereka dalam menentukan kebebasan dalam bergaul
maupun mengemukakan pendapat dan keinginan mereka, jika orang tua tidak dapat
mengkomunikasikan dengan baik pada si anak mereka akan mencari orang lain yang
dapat lebih mengerti dan menerima apa yang diinginkan mereka.
Kemudian selanjutnya faktor media, saat ini
media televisi dan internet (media sosial) khususnya, banyak mempertontonkan atau bahkan
mencontohkan perbuatan-perbuatan yang tidak baik seperti cara berpakaian atau
pun cinta-cintaan yang masih belum pantas untuk dialami oleh anak-anak,
bukankah kita juga sudah melihat bukti nyatanya bahwa pernah terjadi di mana
sepasang ABG yang bertengkar sampai berbuntut hilangnya nyawa, walaupun mungkin
ada faktor lain dari kejadian tersebut, tapi masa sih mereka tidak pernah atau
bahkan tidak terpengaruh pada apa yang mereka tonton sebelumnya? Paling tidak
saya yakin hal tersebut ikut andil. Kita harus cukup cerdas dalam menyaring
acara-acara ataupun channel televisi di rumah, membagi jam yang aman
untuk anak-anak khususnya menonton televisi merupakan salah satu langkah yang
baik. Dalam pertelevisian Indonesia ada komisi penyiaran yang bertugas
membatasi ataupun menyensor adegan-adegan yang tidak pantas dengan memberikan
teguran bertahap atau menghentikan suatu program acara akan tetapi
rasanya tidak maksimal jika kita hanya mengandalkan itu saja, kita punya hak
untuk menuntut atau menghentikan suatu acara atau program yang dianggap
meresahkan secara langsung dengan memberikan teguran kepada pihak stasiun TV
terkait ataupun dengan memanfaatkan jejaring sosial yang ada, mungkin
akan sulit memang bila kita bergerak seorang diri, tapi dengan semakin
berkembangnya media yang ada akan dapat membantu kita menggerakkan banyak orang
dengan satu kepentingan yang sama.
Tentu bukan hanya media televisi saja yang harus di
waspadai, media sosial sekarang ini bisa menjadi ancaman utama bila dalam
penggunaannya tidak secara bijak.
Orang tua wajib memonitor aktivitas
anaknya di jejaring sosial, jadi orang tua pun harus melek internet, rasanya
tidak mungkin bila orang tua hanya mengawasi sepenuhnya kegiatan anaknya
di depan komputer, hal tersebut tidak akan maksimal bila orang tua tidak
ikut ambil bagian dalam aktivitas anaknya di dunia maya. Dan bagi kita
yang aktif dalam berbagai media seperti Twitter, Facebook dan lain
sebagainya, harus memberikan contoh yang baik kepada followers maupun
pertemanan di sosial media secara lebih bijak seperti dengan lebih banyak
men-share- informasi-informasi bermanfaat, artikel mendidik ataupun status yang
tidak mengandung unsur negatif, jangan segan-segan memblokir atau memberi
pengaduan kepada Facebook terkait foto atau pun konten yang dianggap
meresahkan.
Berikut akan saya berikan contoh atau ciri-ciri dari
cabe-cabean
1. Suka
pamer aurat atau mengenakan pakaian-pakaian yang super ketat seperti hanya
mengenakan tengtop dan hotpants di tempat terbuka untuk menarik perhatian orang
lain.
2. Doyan
keluar malam hanya untuk jalan-jalan ngga jelas dan ngelakuin hal yang tidak
berguna seperti nongkrong dipinggir jalan, dibawah jembatan, bahkan di fly
over.
3. Naik
motor boncengan lebih dari 2 orang. Sering kita melihat penampakan cabe-cabean
seperti ini. Biasanya mereka mulai berkeliaran pada sore hari. Dan Membawa motor
kebut-kebutan.
4. Ngerokok,
mabuk-mabukan, bahkan melakukan seks bebas. Entah siapa yang harus disalahkan. Lingkungan?
orang tua yang tidak bisa mendidik anaknya? Atau bahkan orang tua yang tidak bisa mendidik
dirinya sendiri? Sehingga putrinya terbengkalai dan merasa tidak diperdulikan.
Sekian artikel saya mengenai pemuda dan fenomena
cabe-cabean yang sedang menjadi trending topic saat ini. Mari bersama-sama kita
bangun generasi kita agar memiliki perilaku, budi pekerti, dan akal yang baik. Sedini
mungkin kita harus memberikan pengarahan terhadap mereka.
Referensi :